Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2020

Waspada, Stres Pengaruhi Imunitas Tubuhmu Lho

Back To News - Stres merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, Tekanan, atau situasi tidak nyaman. Stres dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa, gugup, marah, dan kecewa.
Situasi tersebut akan memicu respon tubuh, baik secara fisik ataupun mental. Respon tubuh terhadap Stres dapat berupa napas dan detak jantung menjadi cepat, otot menjadi kaku, dan Tekanan darah meningkat.

Perlu Kamu ketahui, Stres dapat membuat sistem kekebalan tubuh menjadi melemah, sehingga mudah terserang penyakit. Namun mengapa demikian? Berikut penjelasan Dr. Ifa Nur Diwani kepada AkuratHealth ketika dihubungi pada Selasa (3/3).

"Stres memengaruhi sistem kekebalan tubuh menurun karena sistem kekebalan tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan tubuh dari ancaman kesehatan," jelasnya.

Saat sistem imun berkerja keras mempertahankan tubuh dari ancaman serangan virus dan kuman penyakit, Stres malah bisa mengubah cara kerja sistem imun secara otomatis, sehingga imunitas menjadi melemah membuat penyakit tak terbendung untuk masuk ke tubuh.

Stres berat yang berlebihan atau berjalan lama akan membuat tubuh letih, sehingga pada akhirnya akan turut melemahkan penyediaan hormon adrenalin dan menurunkan sistem imun.

Dokter Ifa mengatakan bahwa Stres memiliki keterkaitan satu sama lain antara kondisi psikologi dengan sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh manusia yang disebut dengan psikoneuroimunologi.

Orang yang Stres mengakibatkan dirinya lebih mudah sakit. Stres bisa menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit berupa menurunnya sel-sel yang bertugas untuk melawan penyakit dan sulit sembuh.

"Saat Stres maka tubuh akan memasuki fase yang berbeda sehingga mengikis kemampuan imun untuk menjaga tubuh dari berbagai virus, kuman dan bakteri yang masuk. Jadi korelasi Stres menurunkan imun begitu," tutupnya.


Sumber : Akurat.co

Senin, 02 September 2019

Sebuah 5 Masalah Yang Sering Dihadapi Para Lansia Karena Banyak yang tak Sadar

Back To News - Setiap tahun pada 21 Agustus, World Senior Citizen Day dirayakan di seluruh dunia. Hal ini dirayakan untuk menunjukkan rasa terima kasih yang tulus kepada orang tua yang telah berkontribusi pada masyarakat dan mengakui layanan yang terus mereka berikan sepanjang hidup. 
Ini juga mendorong orang tua untuk berpartisipasi sepenuhnya, sehingga mereka dapat diterima dan menerima bantuan yang mereka butuhkan untuk terus menjalani kehidupan.
Keahlian, pengetahuan, dan pengalaman mereka berkontribusi besar bagi keluarga dan masyarakat. Namun mereka diabaikan dalam banyak hal. 
Dilansir dari Boldsky oleh AkuratHealth, berikut adalah lima masalah utama yang dihadapi oleh lansia, yang seringkali kita abaikan bahkan sepelekan.
Keterasingan sosial dan kesepian 
Orang lanjut usia memiliki lebih sedikit peluang untuk keterlibatan sosial daripada kelompok usia yang lebih muda. Mereka merasa kesepian ketika anak-anak mereka pindah ke tempat lain, teman atau pasangan meninggal, dan pensiun dari pekerjaan.
Menurut sebuah laporan oleh Kebutuhan yang Berubah dan Hak-hak Orang Lanjut Usia di India, hampir setiap detik orang lanjut usia menderita kesepian. 
Pelecehan Lansia 
Adalah kenyataan pahit bahwa banyak orang lanjut usia dilecehkan. Diperkirakan antara sembilam persen dan 50 persen orang lanjut usia telah mengalami pelecehan verbal, fisik, dan finansial.
Mereka diabaikan oleh kerabat atau anak-anak mereka, yang dalam kasus-kasus serius meningkatkan peluang mereka untuk mati.
Kerawanan finansial 
Orang lanjut usia yang telah pensiun dari pekerjaannya atau mereka yang miskin memiliki lebih sedikit peluang kerja. Setelah pensiun, sebagian besar lansia hidup dengan pendapatan tetap, dan biaya hidup yang terus meningkat dapat menimbulkan banyak batasan finansial. Selain itu, jika mereka mengalami masalah kesehatan, ada biaya medis tambahan yang membuatnya jauh lebih sulit bagi mereka.
Masalah kesehatan fisik dan mental 
Penuaan mempengaruhi tubuh karena melemahkan otot, tulang, pendengaran, dan penglihatan, serta mobilitas sering menjadi terbatas. Menurut Dewan Nasional Penuaan, sekitar 92 persen manula menderita setidaknya satu penyakit kronis dan 77 persen menderita dua penyakit kronis. Penyakit kronis ini termasuk penyakit jantung, stroke, diabetes dan kanker.
Selain itu, masalah kesehatan mental mempengaruhi sejumlah besar lansia. Masalah kesehatan mental ini termasuk penyakit Alzheimer, demensia, dan depresi. Dikatakan bahwa sekitar 47,5 juta orang di seluruh dunia menderita demensia, yang diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050. Lebih dari 15 persen orang dewasa di atas usia 60 menderita gangguan mental, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. 
Malnutrisi 
Malnutrisi pada lansia di atas usia 65, sering tidak terdiagnosis dan dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti sistem kekebalan tubuh yang melemah dan kelemahan otot. Penyebab malnutrisi berasal dari depresi, pembatasan diet, masalah kesehatan (manula yang menderita demensia mungkin lupa makan), pendapatan terbatas, dan alkoholisme.

Sumber : Akurat.co

Binggo, Penelitan Menungkap Orang yang Berjerawat Lebih Mudah Depresi

Back To News - Walaupun jerawat merupakan masalah kulit yang umum ditemukan, tetap tidak ada yang ingin memiliki jerawat walaupun itu hanya satu.
Penting kamu ketahui, dilansir dari Times Now News, jerawat bukan hanya akan merusak penampilan Anda, tapi orang dengan jerawat, juga berisiko tinggi mengalami depresi berat.
Para peneliti menemukan bahwa pasien dengan jerawat memiliki peningkatan risiko yang signifikan mengalami depresi berat, tetapi hanya dalam lima tahun pertama setelah didiagnosis dengan jerawat.
British Journal of Dermatology menganalisis data dari The Health Improvement Network (THIN) (1986-2012), database perawatan primer besar di Inggris.
Para peneliti menemukan bahwa risiko depresi berat paling tinggi terjadi dalam satu tahun setelah diagnosis jerawat, dan menurun setelahnya. Risiko depresi itu 63 persen lebih tinggi terjadi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki jerawat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sangat penting dokter memantau gejala suasana hati pada pasien yang memiliki jerawat, dan memulai pengobatan segera untuk depresi atau mencari konsultasi dari psikiater bila diperlukan.
"Studi ini menyoroti hubungan penting antara penyakit kulit dan penyakit mental," kata penulis utama Dr. Isabelle Vallerand, dari University of Calgary, di Kanada.
"Mengingat, risiko depresi paling tinggi pada periode setelah pertama kali seorang pasien datang ke dokter untuk masalah jerawat, itu menunjukkan seberapa besar dampak kulit kita terhadap kita untuk keseluruhan kesehatan mental," lanjutnya.
So, untuk seseorang yang berjerawat, penting untuk kamu ingat ini lebih dari persoalan masalah pada kulit. Karena seseorang yang berjerawat dapat menimbulkan masalah kesehatan mental yang signifikan dan harus segera ditanggapi.

Sumber : Akurat.co

Jumat, 09 Agustus 2019

Me Time, Yuk Lakukan Ini Agar Jauh dari Stres

Back To News - Setelah sepekan atau dua pekan bekerja, seringkali Anda mulai merasa kelelahan. Bahkan sampai Anda merasa ada bagian tubuh yang sakit padahal mungkin tidak. Duh, sepertinya Anda butuh me time?
Ya, istilah me time diartikan dengan menghabiskan waktu untuk berfokus pada diri sendiri. Alih-alih beristirahat, ini juga reward untuk diri setelah melewati aktivitas yang melelahkan.
Me time bukan berarti Anda harus mengambil cuti berhari-hari atau minggu-minggu lho. Anda hanya perlu meluangkan waktu untuk memanjakan diri dan pikiran.
Nah dilansir dari berbagai sumber ada banyak kegiatan yang dapat diisi pada saat me time-mu.
Tidur
Tidak ada yang salah dengan tidur seharian jika memang itu yang Anda butuhkan. Mungkin beberapa hari kemarin Anda tidur kurang dari waktu seharusnya. Eits, tapi perlu diingat, tidur seharian bukan berarti hingga 12 jam atau bahkan lebih tidak bangun-bangun ya!
Anda tetap perlu bangun, setidaknya untuk menyadari bahwa tidak ada yang perlu dikerjakan hari ini, seperti kemarin-kemarin. Tetap makan, mandi dan lihat perkembangan sosial. Lalu Anda boleh tidur lagi.
Menonton Film
Bagi sebagian orang menonton film memberikan rileksasi dan menjadi hiburan tersendiri. Pilihlah film-film yang menaikan mood dan memulihkan semangat Anda. Film-film humor sangat dianjurkan agar Anda tetap rileks selama menonton.
Membaca Buku
Membaca buku adalah istirahat yang baik. Meski Anda berdiam diri di satu tempat, namun pikiran Anda tidak ‘mati’. Ini mengasyikan menambah pengetahuan baru tentang hal lain dengan membaca.
Berbelanja
Siapa yang tidak suka belanja? Tapi Anda harus hati-hati agar tidak kartu kreditmu tidak limit, atau ATM-mu mendadak kosong setelah membelanjakan banyak hal untuk diri sendiri. Tetap pertimbangkan mana yang Anda butuhkan dan mana yang hanya napsu belaka.
Olahraga
Mungkin Anda membayangkan kelelahan bercucuran keringat atau kepayahan dalam mengangkat beban. Padahal, olahraga adalah cara yang baik untuk mengembalikan kebugaran tubuh lho. Peregangan otot yang dilakukan selama berolahraga dapat menyegarkan tubuh, pikiran dan perasaan.

Sumber : Akurat.co